cekap semanten
Cekap semanten…
Menawi wonten kalepetan…
Sumonggo samangkih…
Ngunjukkaen toyo wening,
Ngalungaken sekar melati,
Sumanggaaken…
Katuran lenggah…
…
Cukup 8 tahun sepasang manusia mencoba berjalan bersama, bergandengan, kadang berpelukan, dan kadang bercacian…
…
Hampir satu jam mereka berdiri, panas di bawah terik matahari, hanya sedikit dipayungi bayangan ranting pohon. Bulir keringat mulai muncul di sela mata dan telinga, sejalan dengan kata-kata yang terucap dari pranoto coro. Hanya untuk menunggu syahnya hubungan antar dua manusia, tidak hanya menurut agama, tetapi menurut sekelompok masyarakat yang tinggal di bantaran “saluran air bikinan belanda.”
Sebegitukah repotnya untuk mendapatkan status “baik” dari sekelompok orang lain? Kenapa tidak saja langsung untuk duduk dan mendapatkan teriakan “SYAAHHH…!!!” dari para saksi. Kenapa harus dengan sabar menanti padahal gerahnya siang hari semakin berlipat karena jas hitam yang melilit tubuh.
Tidak tau pasti kenapa mereka mau melakukan hal itu, dan mungkin aku kelak. Susah ya untuk jadi orang yang menjawa. Mereka bilang, “ini kebudayaan kita, harus dilestarikan.” Serasa kebudayaan itu milik mereka sendiri. Apa Kebudayaan itu tidak berhak berubah dan melompati daerah “pakem” menuju ke daerah yang baru? Apa aku, kita tidak bisa membuat Kebudayaan itu sendiri yang sebenarnya sama saja.
Akankah cukup sekian saja interaksi antara Kebudayaan dan para aktornya?
…
Dengan ini dinyatakan syah menjadi suami istri…
18 November 2011, 19.00
yo semoga… amiin…
hehehe…