Skip to content

cekap semanten

November 18, 2011

Cekap semanten…

Menawi wonten kalepetan…

Sumonggo samangkih…

Ngunjukkaen toyo wening,

Ngalungaken sekar melati,

Sumanggaaken…

Katuran lenggah…

Cukup 8 tahun sepasang manusia mencoba berjalan bersama, bergandengan, kadang berpelukan, dan kadang bercacian…

Hampir satu jam mereka berdiri, panas di bawah terik matahari, hanya sedikit dipayungi bayangan ranting pohon. Bulir keringat mulai muncul di sela mata dan telinga, sejalan dengan kata-kata yang terucap dari pranoto coro. Hanya untuk menunggu syahnya hubungan antar dua manusia, tidak hanya menurut agama, tetapi menurut sekelompok masyarakat yang tinggal di bantaran “saluran air bikinan belanda.”

Sebegitukah repotnya untuk mendapatkan status “baik” dari sekelompok orang lain? Kenapa tidak saja langsung untuk duduk dan mendapatkan teriakan “SYAAHHH…!!!” dari para saksi. Kenapa harus dengan sabar menanti padahal gerahnya siang hari semakin berlipat karena jas hitam yang melilit tubuh.

Tidak tau pasti kenapa mereka mau melakukan hal itu, dan mungkin aku kelak. Susah ya untuk jadi orang yang menjawa. Mereka bilang, “ini kebudayaan kita, harus dilestarikan.” Serasa kebudayaan itu milik mereka sendiri. Apa Kebudayaan itu tidak berhak berubah dan melompati daerah “pakem” menuju ke daerah yang baru? Apa aku, kita tidak bisa membuat Kebudayaan itu sendiri yang sebenarnya sama saja.

Akankah cukup sekian saja interaksi antara Kebudayaan dan para aktornya?

Dengan ini dinyatakan syah menjadi suami istri…

18 November 2011, 19.00

From → Uncategorized

One Comment
  1. yo semoga… amiin…
    hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.